-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Inovasi SPPG Bajang: Ecoenzim Jadi Senjata Atasi Limbah dan Bau

Ahli Gizi SPPG Bajang, Yuatina Sri Indah Saptaningtyastuti dan Kepala SPPG Nahidl Diyan Ilahiy menunjukkan Ecoenzim. (Foto: doc. Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM: 
Inovasi pengolahan limbah di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bajang, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, mulai menyita perhatian. Unit layanan yang menangani ribuan penerima manfaat ini mengandalkan ecoenzim untuk mengolah limbah makanan agar lebih ramah lingkungan dan minim biaya.

Ahli Gizi SPPG Bajang, Yuatina Sri Indah Saptaningtyastuti mengatakan, pengolahan limbah menjadi perhatian utama dalam operasional harian. Sisa makanan seperti sayur, nasi, hingga buah diolah agar tidak menimbulkan pencemaran maupun bau tak sedap.

“Kami menggunakan ecoenzim untuk pembersihan limbah. Saluran limbah kami beri ecoenzim seminggu sekali untuk mempercepat pengolahan dan mengurangi bau,” kata Yuatina saat ditemui, Senin, 6 April 2026.

Ia menjelaskan, ecoenzim dibuat melalui proses fermentasi selama tiga bulan. Bahan bakunya berasal dari limbah buah atau kulit buah yang dipotong kecil, lalu dicampur dengan gula dan air.

“Selama proses fermentasi, tutup botol dibuka sedikit secara berkala untuk mengeluarkan gas. Setelah tiga bulan, baru bisa digunakan,” ujarnya.

Yuatina mengaku membawa pengetahuan tersebut dari rumah, terinspirasi dari kebiasaan keluarganya yang rutin membuat ecoenzim. Inovasi itu kemudian diterapkan di lingkungan SPPG Bajang sebagai solusi pengolahan limbah yang murah dan berkelanjutan.

Selain untuk saluran limbah, ecoenzim juga dimanfaatkan untuk mengatasi WC mampet. Menurutnya, cairan hasil fermentasi tersebut terbukti efektif mengurai sumbatan tanpa bahan kimia tambahan.

Tak hanya itu, limbah makanan lain seperti sisa sayur dan nasi juga dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik. Langkah ini dinilai mampu mengurangi volume sampah sekaligus memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekitar.

“Ini inovasi sederhana, hampir tanpa biaya, tapi manfaatnya maksimal dan ramah lingkungan,” kata Yuatina.

Kepala SPPG Bajang, Nahidl Diyan Ilahiy, mengatakan inovasi tersebut turut mendukung pelayanan kepada 1.680 penerima manfaat yang tersebar di dua desa, yakni Desa Bajang dan Desa Mlarak.

Ia menilai pengelolaan limbah yang baik menjadi bagian penting dari keberlanjutan program pelayanan gizi di wilayahnya.

“Dengan sistem ini, operasional tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan aspek lingkungan,” ujarnya. (*)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar