-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

SPPG Ngasinan 2 Ubah Sisa Makanan Jadi Berkah untuk Warga

Warga mengambil sisa makanan dari SPPG Ngasinan 2 untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

GARDAJATIM.COM:
Program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ngasinan 2, Jetis, Ponorogo, tak hanya berfokus pada distribusi makanan bergizi, tetapi juga membangun pola pengelolaan yang berdampak langsung bagi masyarakat sekitar.

Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah memanfaatkan sisa makanan sebagai pakan ternak warga.

Mitra SPPG Ngasinan 2, Drs. H. Anis Muhtarom, mengatakan sejak awal operasional pihaknya berkomitmen menjalankan program sesuai petunjuk pelaksanaan dan teknis dari Badan Gizi Nasional (BGN). Komitmen tersebut tidak hanya pada kualitas layanan, tetapi juga pada pelibatan masyarakat desa.

“Lingkungan desa harus dilibatkan. Itu bukan hanya aturan, tapi kebutuhan agar program ini benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujar Anis, Jumat, 10 April 2026.

Anis menambahkan, sebagian besar tenaga kerja di SPPG Ngasinan 2 berasal dari warga sekitar.

Menurut dia, kebijakan ini penting agar manfaat program tidak hanya dirasakan penerima layanan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

“Pekerja di SPPG ini mayoritas warga sekitar. Jadi dampaknya langsung dirasakan, tidak hanya soal gizi, tapi juga lapangan pekerjaan,” katanya.

Selama enam bulan berjalan, operasional SPPG Ngasinan 2 relatif stabil. BGN juga telah melakukan peninjauan langsung untuk memastikan kesesuaian pelaksanaan di lapangan. Hasilnya, tidak ditemukan persoalan berarti.

Selain memastikan kualitas menu sesuai standar, pengelola juga menjaga komunikasi dengan warga sekitar. Hal ini dilakukan untuk menghindari potensi gesekan sosial sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat.

Pengelolaan sisa makanan menjadi salah satu inovasi yang dirasakan langsung manfaatnya oleh warga. Sisa makanan, sayur, dan buah yang tidak lagi layak distribusi dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Warga dari 14 rukun tetangga di sekitar lokasi secara bergiliran mengambil sisa tersebut setiap hari. Skema pengambilan pun diatur secara terjadwal untuk menjaga ketertiban.

“Setiap hari pasti ada yang datang. Ini membantu warga, terutama untuk pakan ternak,” kata Anis.

Salah satu warga penerima manfaat, Pajar Cahyono, mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. Ia mengatakan hampir setiap hari mendapatkan pakan ternak secara gratis dari sisa makanan SPPG.

“Alhamdulillah, sangat membantu. Hampir tiap hari saya dapat pakan ternak gratis dari sini,” ujar Pajar.

Menurut Anis, pola ini menciptakan hubungan yang saling menguntungkan. Program tetap berjalan sesuai tujuan, sementara warga memperoleh manfaat tambahan dari aktivitas yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah.

Di tengah sorotan terhadap pelaksanaan program serupa di sejumlah daerah, pendekatan yang dilakukan SPPG Ngasinan 2 menunjukkan model pengelolaan berbasis komunitas.

Dengan melibatkan warga dan meminimalkan limbah, program ini dinilai mampu menciptakan ekosistem desa yang lebih berkelanjutan. (Fjr)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar