Disbudpar Jatim dan DPRD Gelar Wayang Kulit di Ponorogo, Atika Banowati Tunaikan Nazar di Rumah Eyang Tondowinoto
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Prosesi penyerahan wayang kulit menjadi simbol komitmen bersama dalam melestarikan seni tradisi. (Foto: doc. Gardajatim.com) |
Pesan itu mengemuka dalam pagelaran wayang kulit yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur bersama DPRD Provinsi Jawa Timur di Pelataran Ndoro, Jalan HOS Cokroaminoto, Ponorogo, Sabtu malam, 6 Juni 2026.
Kegiatan yang berlangsung bertepatan dengan rangkaian pembukaan Grebeg Suro tersebut menghadirkan dalang Ki Eko Prisdianto bersama Mas Jabang dengan membawakan lakon "Aji Narantaka".
Pagelaran itu juga dimeriahkan penampilan bintang tamu Lusi Brahman, Elisha Orcarus, dan Jolang.
Perwakilan Disbudpar Jawa Timur, Adiyanto mengatakan, semangat menjaga kebudayaan harus terus menyertai seluruh elemen masyarakat.
"Semangat akan budaya harus tetap membersamai. Ini merupakan sinergitas Disbudpar Jawa Timur dengan DPRD Jawa Timur yang diinisiasi oleh Ibu Atika," kata Adiyanto dalam sambutannya.
Ia menegaskan, tugas pelestarian budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab dinas terkait. Legislatif, pelaku seni, komunitas budaya, hingga masyarakat luas memiliki peran yang sama pentingnya.
"Pelestarian bukan hanya tugas dinas saja, tetapi juga dewan, pelaku seni, dan semua kalangan masyarakat. Semoga sinergitas ini dapat terus terjalin dan tahun depan bisa berlanjut dengan lebih baik. Tentunya acara ini bermanfaat bagi kita semua," ujarnya.
Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Fraksi Partai Golkar, Hj Atika Banowati mengaku, pagelaran wayang kulit tersebut merupakan cita-cita yang telah lama ia rencanakan.
"Saya sudah mengangan-angankan kegiatan ini empat tahun lalu, dan ternyata terlaksana bertepatan dengan pembukaan Grebeg Suro. Tentunya ini bukan suatu kebetulan," kata Atika.
![]() |
| Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur, Komisi D, Fraksi Partai Golkar, Hj Atika Banowati, S.H. |
Menurut dia, kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya nguri-uri budaya di tengah semakin kuatnya arus budaya asing yang mulai memengaruhi generasi muda.
"Sinergitas ini dalam rangka nguri-uri budaya, mengingat budaya asing mulai mendesak generasi muda kita," tuturnya.
Selain sebagai upaya pelestarian budaya, Atika menilai kegiatan tersebut juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat melalui aktivitas para pelaku usaha kecil yang terlibat selama penyelenggaraan acara.
Ia juga mengungkap alasan dipilihnya Sabtu Wage sebagai waktu pelaksanaan. Menurut Atika, hari tersebut bertepatan dengan haul Eyang Tondowinoto, sosok leluhur yang dihormati keluarganya.
"Ini merupakan haul Eyang Tondowinoto. Saya memiliki nazar untuk memperingati haul beliau, dan tempat ini sengaja dipilih di rumah beliau," ujarnya.
Atika berharap penyelenggaraan pagelaran wayang kulit ini membawa keberkahan bagi semua pihak yang terlibat.
Diketahui, Eyang Tondowiyoto lahir pada 1848 dan wafat pada 1939 dalam usia 91 tahun. Rumah yang kini dikenal sebagai Pelataran Ndoro tersebut dibangun pada 1905 dan masih berdiri sebagai bagian dari jejak sejarah keluarga.
Dalam kesempatan yang sama, H. Ali Mufthi anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar menyoroti pesan moral yang terkandung dalam lakon Aji Narantaka.
Ia berharap nilai-nilai kepahlawanan dalam cerita pewayangan dapat menginspirasi kehidupan berbangsa.
"Dengan lakon ini, semoga Indonesia memiliki sosok-sosok Gatotkaca seperti dalam wayang. Dan selamat kepada Bu Atika karena telah terpenuhi nazarnya," ujar Ali Mufthi.
Pagelaran wayang kulit itu pun berlangsung meriah. Ratusan warga memadati Pelataran Ndoro untuk menikmati pertunjukan semalam suntuk yang bukan sekadar hiburan, melainkan ruang merawat ingatan kolektif tentang identitas budaya yang diwariskan lintas generasi. (Fjr)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...


