-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Pulang untuk Mengingat Akar: Grebeg Suro dan Jati Diri Orang Ponorogo

Edy Sukarno, Staf Administrasi Sekretariat Jenderal DPR RI. (Foto: Istimewa)
GARDAJATIM.COM: Ada kalanya perjalanan membawa seseorang melangkah jauh dari kampung halaman. Menembus batas kota, bahkan negara. Namun sejauh apa pun kaki melangkah, pulang tetap menjadi tujuan utama.

Sebab tanah kelahiran bukan sekadar tempat berpijak. Ia adalah akar yang menumbuhkan mimpi, ruang tempat seseorang pertama kali belajar tentang nilai, kesederhanaan, dan identitas dirinya.

Pesan itulah yang disampaikan Edy Sukarno, Staf Administrasi Sekretariat Jenderal DPR RI, saat memaknai perhelatan Grebeg Suro di Ponorogo.

"Sejauh kaki melangkah, pulang adalah tujuan utama. Tanah kelahiran bukan sekadar tempat berpijak, melainkan seperti akar untuk membangun sebuah mimpi," ujar Edy, Sabtu, 6 Juni 2026.

Bagi Edy, Grebeg Suro bukan sekadar agenda tahunan yang dipenuhi kemeriahan festival dan pertunjukan seni.

Lebih dari itu, perayaan tersebut merupakan ruang refleksi bagi masyarakat Ponorogo untuk kembali mengingat asal-usulnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, Grebeg Suro hadir sebagai pengingat bahwa identitas budaya tidak boleh tercerabut dari kehidupan masyarakatnya.

"Grebeg Suro ialah sarana mengingatkan akan budaya dan jati diri Ponorogo kita," katanya.

Pernyataan itu menemukan relevansinya di tengah semakin besarnya perhelatan Grebeg Suro yang kini tak hanya menjadi milik warga Ponorogo, tetapi juga magnet budaya berskala nasional.

Tahun ini, Grebeg Suro 2026 kembali menghadirkan Festival Reog Remaja XXII dan Festival Nasional Reog Ponorogo XXXI yang masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN). Puluhan grup reog dari berbagai daerah turut ambil bagian dalam perayaan tersebut.

Namun, di balik gegap gempita panggung utama dan riuh tepuk tangan penonton, ada pesan yang jauh lebih penting untuk dijaga: budaya bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan.

Grebeg Suro menjadi pengikat ingatan kolektif masyarakat Ponorogo tentang siapa mereka sesungguhnya.

Tentang nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, serta kebanggaan terhadap warisan budaya yang diwariskan lintas generasi.

Bagi para perantau, momentum ini menjadi panggilan untuk pulang. Bukan hanya pulang secara fisik, tetapi juga pulang kepada akar nilai yang membentuk diri mereka.

Sebab, pada akhirnya, kemajuan daerah tidak hanya dibangun melalui infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Ia juga bertumpu pada masyarakat yang tetap mengenali jati dirinya.

Dan melalui Grebeg Suro, Ponorogo seolah mengingatkan dunia bahwa menjadi modern tidak harus kehilangan akar.

Karena sejauh kaki melangkah, pulang tetaplah tujuan utama. Pulang kepada tanah kelahiran, kepada budaya, dan kepada jati diri sebagai wong Ponorogo. **

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar