-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Jagong Budaya Dan Bersih Desa Pangongangan Perkuat Pelestarian Sejarah Nyi Ageng Ronje

Jagong Budaya dan Bersih Desa Kelurahan Pangongangan. (Dok. Arn)
GARDAJATIM.COM : Pemerintah Kelurahan Pangongangan, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun, menggelar Jagong Budaya dan Bersih Desa bertema "Mengenal Tradisi Melalui Keberagaman" di kawasan Makam Nyi Ageng Ronje, Kamis (2/7/2026). 

Kegiatan tersebut menjadi upaya melestarikan sejarah lokal sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat di tengah perkembangan zaman.

Acara dihadiri Lurah Pangongangan Eva Anjarika Rahmawati, Ketua LPMK Kelurahan Pangongangan Sutrisno, narasumber sejarah Akhlis Syamsal Q, tokoh masyarakat, para sesepuh, ketua RT/RW, serta warga setempat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan istigasah, doa bersama, dan pemotongan tumpeng sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas limpahan berkah sekaligus harapan agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, kerukunan, dan kesejahteraan.

Pemilihan Makam Nyi Ageng Ronje sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Tokoh yang diyakini sebagai leluhur masyarakat Pangongangan tersebut memiliki nilai sejarah yang terus dijaga hingga kini. 

Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Nyi Ageng Ronje dipercaya pernah menjadi abdi dalem sekaligus peronce bunga bagi Bupati Madiun pada masa lampau. Atas jasa dan pengabdiannya, masyarakat terus mengenang sosok tersebut melalui tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Usai prosesi bersih desa, kegiatan dilanjutkan dengan Jagong Budaya yang menghadirkan peneliti dan penulis sejarah asal Madiun, Akhlis Syamsal Q. 

Dalam forum tersebut, peserta diajak mendiskusikan sejarah Kelurahan Pangongangan, perkembangan wilayah Madiun pada masa lampau, serta menelusuri kembali berbagai sumber mengenai sosok Nyi Ageng Ronje.

Lurah Pangongangan Eva Anjarika Rahmawati mengatakan tradisi bersih desa menjadi agenda tahunan yang selalu diawali dengan istigasah, kemudian dilanjutkan dengan Jagong Budaya sebagai sarana menjaga warisan budaya sekaligus mempererat kebersamaan warga.

"Di Kelurahan Pangongangan setiap tahun melaksanakan tradisi desa yang diawali dengan istigasah. Selain itu juga ada Jagong Budaya. Walaupun kita berada di tengah kota dan banyak pengaruh budaya baru yang masuk, kami tetap berupaya melestarikan budaya yang ada di Pangongangan melalui agenda nguri-uri budaya setiap tahunnya," ujarnya.

Menurut Eva, kegiatan tersebut juga bertujuan mengenalkan kembali sosok Nyi Ageng Ronje kepada masyarakat, khususnya generasi muda, agar sejarah lokal tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

"Kami mengundang para ketua RT, RW, tokoh masyarakat, agar informasi sejarah ini nantinya diteruskan kepada anak-anak dan generasi berikutnya. Harapannya sejarah Nyi Ageng Ronje tetap dikenang dan menjadi pengetahuan yang terus diwariskan. Itu menjadi tugas kami bersama panitia untuk menjaga budaya yang sudah ada agar terus lestari," katanya.

Sementara itu, Ketua LPMK Kelurahan Pangongangan, Sutrisno, mengatakan pelestarian tradisi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. 

Menurutnya, kegiatan Bersih Desa dan Jagong Budaya menjadi momentum memperkuat kebersamaan warga sekaligus mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda agar warisan budaya tetap lestari dan tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

"Tradisi ini adalah warisan leluhur yang harus terus kita jaga bersama. Kami berharap masyarakat, terutama generasi muda, semakin mengenal sejarah Pangongangan dan ikut melestarikan budaya yang menjadi identitas daerah," ujarnya.
Dalam kesempatan sama, narasumber Jagong Budaya, Akhlis Syamsal Q, menyampaikan apresiasi atas antusiasme masyarakat yang hadir. 

Menurutnya, sejarah Nyi Ageng Ronje masih memiliki banyak ruang untuk dikaji melalui kolaborasi antara peneliti dan masyarakat.

"Alhamdulillah malam hari ini diberikan kesempatan untuk berbagi dengan warga Kelurahan Pangongangan terkait Eyang Ronje. Besar harapan ke depan ketokohan Eyang Ronje bisa dikenal lebih luas melalui kolaborasi tulisan yang bersumber dari data sejarah maupun tradisi lisan yang dimiliki masyarakat Pangongangan," ujarnya.

Ia berharap berbagai informasi yang selama ini berkembang dapat dikaji secara lebih komprehensif sehingga menghasilkan gambaran sejarah yang lebih utuh.

"Dengan kolaborasi tersebut, kita dapat memotret sosok Eyang Nyai Ronje secara lebih lengkap dari berbagai informasi yang selama ini masih simpang siur. Antusiasme masyarakat pada kegiatan ini juga luar biasa dan menjadi modal penting untuk menggali sejarah lokal lebih dalam," tambahnya.

Melalui tema "Mengenal Tradisi Melalui Keberagaman", Pemerintah Kelurahan Pangongangan berharap Jagong Budaya dan Bersih Desa tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga menjadi media edukasi sejarah bagi masyarakat serta memperkuat nilai-nilai kearifan lokal agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. (@Arn)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar