-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Dari Ponorogo ke Kairo: Jejak Ketiga Kangmas Komarudin, Mengesahkan Warga PSHT di Tanah Al Azhar

Moh. Komarudin, S.Ag., M.Si., Ketua PSHT Cabang Ponorogo. (Foto: Isitmewa)
GARDAJATIM.COM: Di tengah hiruk-pikuk Kota Kairo yang menyimpan jejak peradaban ribuan tahun, sebuah kisah dari Ponorogo kembali menorehkan sejarah.

Bukan tentang diplomasi negara atau misi pemerintahan, melainkan perjalanan seorang pendekar yang membawa amanah hingga ke jantung dunia Islam.

Adalah Kangmas H. Moh. Komarudin, S.Ag., M.Si., Ketua PSHT Cabang Ponorogo Pusat Madiun, yang mendapat kepercayaan langsung dari PSHT Pusat Madiun untuk mengesahkan sembilan calon warga baru PSHT Cabang Khusus Mesir pada 12 Juli 2026.

Bagi Komarudin, perjalanan itu bukan sekadar kunjungan ke luar negeri. Amanah tersebut merupakan kali ketiga ia dipercaya menjadi Dewan Pengesah di luar Indonesia, setelah sebelumnya menjalankan tugas serupa di Taiwan dan Timor Leste. Namun, Mesir meninggalkan kesan yang berbeda.

"Ini pengalaman yang luar biasa. Bisa bertemu adik-adik mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Al Azhar," ungkapnya setibanya di tanah air, Jumat (17/7/2026).

Kesembilan calon warga yang disahkan merupakan mahasiswa Indonesia yang tengah menimba ilmu di Universitas Al Azhar, salah satu pusat pendidikan Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.

Di lingkungan yang sarat tradisi keilmuan itu, prosesi pengesahan berlangsung khidmat. Lebih dari sekadar seremoni organisasi, momen tersebut menjadi simbol kuatnya ikatan persaudaraan, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang melintasi batas negara.

Berangkat seorang diri, Komarudin memikul tanggung jawab besar. Sebagai Dewan Pengesah, ia memastikan setiap tahapan berjalan sesuai pakem organisasi, bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dalam menjaga nilai-nilai yang diwariskan PSHT.

Menurutnya, Mesir memiliki kedekatan emosional tersendiri dengan Indonesia sebagai sesama negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun, yang paling membekas baginya adalah kenyataan bahwa para calon warga merupakan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu.

"Tentu ini jadi pertimbangan tersendiri. Mereka bukan hanya belajar ilmu dunia, tapi juga membawa nilai-nilai budaya bangsa," ujarnya.

Di luar tugas organisasi, Komarudin memanfaatkan kesempatan itu untuk menelusuri jejak sejarah dan spiritualitas di Negeri Piramida.

Salah satu pengalaman yang paling mengguncang batinnya terjadi saat berziarah ke makam ulama besar Imam Safingi.

"Ketika saya sampai di depan makam beliau, langsung menangis," tuturnya, mengenang momen yang menurutnya sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Perjalanan itu juga membawanya mengunjungi Piramida, ikon dunia yang telah berdiri menjadi saksi perjalanan peradaban manusia selama ribuan tahun.

Namun, pengalaman yang paling tak disangka justru datang setelah ia menunaikan salat di sebuah masjid.

Tanpa diduga, sejumlah jamaah dari berbagai negara menghampirinya dan meminta berfoto bersama. Mereka datang dari berbagai penjuru, mulai Eropa hingga Timur Tengah. Meski tidak saling mengenal, kehangatan yang terjalin terasa begitu alami.

"Saya ini bukan siapa-siapa. Tapi waktu itu banyak jamaah minta foto bersama, bahkan ada dari Prancis," kenangnya dengan nada heran sekaligus bangga.

Selama berada di Kairo, ia juga menyempatkan diri menyusuri pasar-pasar tradisional dan berbagai sudut kota.

Dari pengamatannya, kehidupan masyarakat Mesir ternyata tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Bahkan, biaya hidup dinilainya masih cukup terjangkau.

"Kalau di Indonesia ngopi tiga ribu, di sana sekitar lima ribu. Nggak jauh beda," katanya sambil tersenyum.

Komarudin juga melihat besarnya komunitas mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Al Azhar.

Kampus yang luas dan megah itu bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang pertemuan berbagai budaya, peradaban, dan semangat kebangsaan yang tetap hidup di negeri orang.

Sebagai tokoh organisasi sekaligus anggota DPRD Kabupaten Ponorogo, ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk memperluas wawasan melalui pendidikan di luar negeri.

"Kalau ada kesempatan, terutama yang masih muda, belajarlah ke luar negeri. Kairo sangat cocok, suasananya mirip Indonesia," pesannya.

Perjalanan ini pada akhirnya bukan sekadar catatan tentang pengesahan warga baru PSHT di luar negeri. Lebih dari itu, kisah tersebut memperlihatkan bagaimana nilai-nilai persaudaraan yang lahir dari Ponorogo mampu menjangkau lintas benua.

Dari tanah kelahiran Reog hingga Kota Kairo, semangat PSHT terus menemukan ruang untuk tumbuh, menyatukan budaya, mempererat persaudaraan, dan menghubungkan Indonesia dengan dunia. (Fjr/Red)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar