-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Survei Lingkungan Belajar 2026 Digelar, Mampukah Mengakhiri Bullying yang Terus Berulang?

Foto: Ilustrasi generated Ai.
Oleh: M.Ng. Fajar Setiawan Wartoprasetyo

GARDAJATIM.COM: Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) 2026 kembali digelar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebagai bagian dari upaya memetakan kualitas lingkungan belajar di sekolah.

Tujuannya mulia, yakni menciptakan satuan pendidikan yang lebih aman, inklusif, dan mendukung peningkatan mutu pembelajaran.

Namun, di tengah pelaksanaan survei tersebut, publik patut mengajukan satu pertanyaan mendasar: mampukah survei ini benar-benar mengakhiri praktik bullying yang hingga kini masih menjadi persoalan serius di dunia pendidikan?

Jawabannya bergantung bukan pada kualitas surveinya, melainkan pada keberanian semua pihak menindaklanjuti hasilnya.

Setiap kali kasus perundungan mencuat ke publik, pola yang muncul hampir selalu sama. Korban mengalami trauma, sekolah menyampaikan permohonan maaf atau melakukan mediasi, sementara pemerintah kembali mengingatkan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang aman. Setelah perhatian publik mereda, persoalan pun seolah ikut menghilang, hingga kasus berikutnya kembali terjadi.

Siklus seperti ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan lagi minimnya data. Pemerintah sebenarnya telah memiliki berbagai instrumen untuk memotret kondisi sekolah, termasuk melalui Survei Lingkungan Belajar.

Yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah memastikan setiap temuan benar-benar diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata.

Bullying tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh ketika budaya saling menghormati tidak dibangun sejak dini, ketika korban takut melapor, ketika saksi memilih diam, atau ketika sekolah lebih sibuk menjaga reputasi dibanding menyelesaikan akar persoalan.

Dalam kondisi seperti itu, survei hanya akan menjadi kumpulan angka apabila tidak diikuti evaluasi yang serius.

Di sisi lain, kejujuran responden juga menjadi faktor penting. Guru dan kepala sekolah diharapkan memberikan gambaran yang objektif mengenai kondisi lingkungan belajar. 

Sebab, data yang tidak mencerminkan realitas hanya akan menghasilkan kebijakan yang tidak tepat sasaran. Sekolah yang tampak baik di atas kertas belum tentu benar-benar menjadi ruang yang aman bagi seluruh peserta didiknya.

Karena itu, keberhasilan Survei Lingkungan Belajar 2026 semestinya tidak diukur dari tingginya angka partisipasi pengisian kuesioner. Keberhasilannya justru terlihat setelah hasil survei dipublikasikan.

Apakah sekolah dengan tingkat risiko bullying tinggi memperoleh pendampingan? Apakah ada penguatan layanan bimbingan konseling? Apakah guru mendapat pelatihan pencegahan kekerasan? Dan apakah pemerintah daerah ikut memastikan rekomendasi tersebut benar-benar dijalankan?

Bullying merupakan persoalan yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui instrumen administrasi. Dibutuhkan kepemimpinan kepala sekolah yang kuat, guru yang peka terhadap perubahan perilaku siswa, keterlibatan orang tua, serta sistem pelaporan yang memberikan rasa aman kepada korban tanpa takut mendapat stigma.

Survei Lingkungan Belajar 2026 merupakan langkah yang penting sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan.

Namun, survei hanyalah titik awal. Yang menentukan keberhasilannya adalah keberanian pemerintah, sekolah, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah temuan di atas kertas menjadi tindakan nyata di lapangan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah berapa banyak sekolah yang mengisi survei, melainkan berapa banyak anak yang dapat belajar tanpa rasa takut, tanpa intimidasi, dan tanpa menjadi korban bullying.

Sebab, sekolah yang berkualitas bukan hanya menghasilkan siswa berprestasi, tetapi juga mampu menjamin setiap anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, bermartabat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan. ***
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar