Angka Stunting Madiun Turun Jadi 5,02 Persen, Posyandu Didigitalisasi
Penanganan stunting diperkuat dengan kenaikan anggaran menjadi Rp246 juta dan penggunaan alat antropometri digital di 877 Posyandu.
Redaksi Garda Jatim
... menit baca
![]() |
| Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Bulan Timbang Serentak 2026 di Desa Uteran, Kecamatan Geger. (Dok. Ist) |
GARDAJATIM.COM : Angka stunting di Kabupaten Madiun kembali turun menjadi 5,02 persen per Juli 2026 dari 5,14 persen pada 2025. Penurunan tersebut disertai penguatan penanganan melalui peningkatan anggaran serta digitalisasi pengukuran tumbuh kembang anak di Posyandu.
Perkembangan itu disampaikan dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Bulan Timbang Serentak 2026 di Desa Uteran, Kecamatan Geger, Selasa (11/8/2026).
Bupati Madiun Hari Wuryanto mengatakan anggaran penanganan stunting Tahun Anggaran 2026 meningkat menjadi Rp246 juta dari sebelumnya Rp160 juta.
Penguatan sistem pengukuran juga dilakukan dengan penggunaan alat antropometri digital standar di seluruh Posyandu Kabupaten Madiun.
Teknologi tersebut digunakan untuk meningkatkan ketepatan data pertumbuhan anak sekaligus memperbaiki sistem pelaporan.
"Kami berkomitmen melahirkan generasi yang tangguh dan cerdas. Seluruh Posyandu kini menggunakan alat antropometri digital standar agar data yang dihasilkan presisi dan sistem pelaporan tidak lagi bergantung pada tumpukan kertas," ujar Hari Wuryanto.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun dr. Heri Setyana mengatakan tren penurunan stunting berlangsung dalam tiga tahun terakhir. Angkanya tercatat 5,48% pada 2024, turun menjadi 5,14% pada 2025, dan kembali ditekan menjadi 5,02% per Juli 2026.
Capaian tersebut ditopang 877 Posyandu yang aktif 100 persen dengan dukungan 6.449 kader. Partisipasi masyarakat dalam program tersebut juga mencapai rata-rata 97% di 15 kecamatan.
"Tingkat partisipasi masyarakat cukup tinggi, mencapai rata-rata 97% di 15 kecamatan. Bulan Timbang ini bukan sekadar penimbangan massal, tetapi juga ruang edukasi gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan pola asuh 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)," tutur dr. Heri.
Selain pengukuran dan edukasi, inovasi berbasis masyarakat turut dikembangkan untuk mendukung pemenuhan gizi balita.
Posyandu Kartini Desa Uteran, misalnya, menerapkan program penukaran sampah rumah tangga dengan makanan tambahan bergizi bagi balita.
Ketua Tim Kerja Percepatan Penurunan Stunting Kemenkes RI Dahlan Syuron yang memberikan arahan secara virtual meminta kader memastikan setiap hasil pengukuran dicatat secara akurat.
Pencatatan harus dilakukan secara jujur dan detail tanpa pembulatan untuk menjaga validitas data By Name By Address (BNBA). (@Red/Kominfo)
Sebelumnya
...
