-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Menguak Asal-usul Angka Desil dalam Data Kesejahteraan

Foto: Ilustrasi generated Ai.
GARDAJATIM.COM: Angka desil yang muncul dalam data kesejahteraan masyarakat bukan sekadar angka administratif.

Di balik Desil 1 hingga Desil 10 terdapat proses pengolahan berbagai data rumah tangga untuk memperkirakan kondisi sosial-ekonomi dan menempatkan keluarga dalam pemeringkatan kesejahteraan.

Perbedaan angka desil kerap membingungkan masyarakat. Dua keluarga yang memiliki penghasilan bulanan relatif sama, misalnya, dapat berada pada desil berbeda karena sistem tidak hanya membaca pendapatan, tetapi juga kondisi rumah, kepemilikan aset, komposisi keluarga, pendidikan, dan pekerjaan.

Dari Mana Angka Desil Berasal?
Angka desil berkaitan dengan metode Proxy Means Test (PMT), yakni pendekatan statistik yang memperkirakan kemampuan ekonomi rumah tangga berdasarkan sejumlah karakteristik yang dapat diamati.

Data rumah tangga kemudian diproses dalam sistem Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Hasil pengolahan digunakan untuk memperkirakan kemampuan pengeluaran per kapita setiap rumah tangga.

Dengan demikian, angka desil bukan hasil dari satu pertanyaan mengenai besaran gaji. Angka tersebut merupakan hasil pengolahan berbagai informasi yang kemudian digunakan untuk menentukan posisi relatif sebuah rumah tangga.

Ilustrasi: Penghasilan Sama, Desil Bisa Berbeda
Bayangkan dua keluarga yang tinggal di desa yang sama. Sebut saja keluarga Pak Andi dan Pak Budi.

Keduanya sama-sama bekerja sebagai buruh tani lepas dengan pendapatan sekitar Rp1,5 juta per bulan. Jika pendapatan menjadi satu-satunya ukuran, keduanya semestinya memiliki posisi yang hampir sama.

Namun, sistem melihat lebih banyak variabel.

Keluarga Pak Andi
Pak Andi tinggal di rumah berdinding papan dengan lantai semen sederhana. Keluarganya tidak memiliki kendaraan bermotor. Peralatan elektronik di rumah juga terbatas.

Satu-satunya alat transportasi adalah sepeda kayuh tua yang digunakan untuk pergi ke sawah.

Dalam ilustrasi perhitungan PMT, kondisi hunian sederhana dan minimnya aset dapat membuat perkiraan kemampuan ekonomi keluarga Pak Andi berada pada tingkat lebih rendah.

Setelah masuk dalam pemeringkatan, keluarga Pak Andi digambarkan berada pada Desil 2.

Keluarga Pak Budi
Pak Budi memiliki pendapatan yang sama, sekitar Rp1,5 juta per bulan.
Namun, rumahnya sudah berdinding tembok dan berlantai keramik. Di ruang tamu terdapat televisi layar datar.

Ia juga memiliki sepeda motor matic yang dibeli secara kredit untuk menunjang mobilitas.

Kepemilikan rumah dan kendaraan tersebut menjadi bagian dari karakteristik yang dibaca sistem sebagai proxy kondisi ekonomi.

Dalam ilustrasi yang sama, keluarga Pak Budi digambarkan berada pada Desil 5.

Artinya, dua keluarga dengan pendapatan tunai yang sama dapat memiliki posisi berbeda karena karakteristik sosial-ekonomi yang digunakan dalam perhitungan juga berbeda.

Catatan penting: Ilustrasi Pak Andi dan Pak Budi tersebut merupakan contoh untuk menjelaskan cara kerja konsep PMT, bukan simulasi resmi atau formula aktual yang dapat digunakan untuk menghitung desil seseorang secara mandiri.

Apa Saja yang Dibaca Sistem?
Ada beberapa kelompok informasi yang dapat menggambarkan kondisi ekonomi rumah tangga.

Pertama, kondisi hunian. Data dapat mencakup luas bangunan, material atap dan dinding, jenis lantai, fasilitas sanitasi, sumber air minum, hingga penggunaan listrik.

Kedua, kepemilikan aset. Sepeda motor, mobil, peralatan elektronik, lahan, dan aset usaha dapat menjadi bagian dari karakteristik rumah tangga yang diperhitungkan.

Ketiga, komposisi keluarga. Jumlah anggota keluarga, jumlah tanggungan, keberadaan balita, lansia, atau anggota keluarga penyandang disabilitas memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi rumah tangga.

Keempat, pendidikan dan pekerjaan. Tingkat pendidikan serta karakteristik pekerjaan anggota keluarga juga dapat menjadi variabel dalam memperkirakan kondisi sosial-ekonomi.

Karena itulah, pendapatan yang sama tidak otomatis menghasilkan angka desil yang sama.

Dari Data Rumah Tangga Menjadi Ranking
Data sosial-ekonomi dikumpulkan melalui pendataan dan pemutakhiran pemerintah. Badan Pusat Statistik (BPS), antara lain, melakukan pendataan melalui Registrasi Sosial Ekonomi (Regsosek).

Sementara itu, Kementerian Sosial juga melakukan pemutakhiran data kesejahteraan sosial.

Setelah data tersedia dalam DTSEN, berbagai variabel rumah tangga diproses dengan metode statistik PMT untuk memperkirakan kemampuan pengeluaran per kapita.

Hasilnya kemudian digunakan dalam pemeringkatan dari kelompok dengan perkiraan kemampuan ekonomi paling rendah hingga paling tinggi.

Pemeringkatan tersebut dibagi menjadi 10 kelompok. Desil 1 menggambarkan kelompok 10 persen terbawah, sedangkan Desil 10 berada pada kelompok 10 persen teratas.

Mengapa Angka Desil Bisa Berubah?
Angka desil bukan label yang melekat selamanya pada sebuah keluarga.
Kondisi rumah tangga dapat berubah.

Pekerjaan bisa berganti, jumlah tanggungan dapat bertambah atau berkurang, aset dapat dijual, rumah dapat berubah kondisi, dan kemampuan ekonomi dapat mengalami penurunan ataupun peningkatan.

Jika perubahan tersebut tercatat dalam proses pemutakhiran data, posisi rumah tangga dalam pemeringkatan dapat berubah.

Misalnya, sepeda motor Pak Budi dalam ilustrasi tadi rusak berat dan kemudian dijual karena kebutuhan ekonomi.

Jika perubahan tersebut tercatat dalam pemutakhiran data, karakteristik rumah tangganya ikut berubah.

Dalam perhitungan berikutnya, posisi keluarga Pak Budi dapat bergerak ke desil yang lebih rendah.

Sebaliknya, jika kondisi ekonomi membaik dan perubahan tersebut tercatat, posisinya juga dapat bergerak ke desil yang lebih tinggi.

Persoalan Utamanya Bukan Sekadar Angka
Di sinilah persoalan desil menjadi lebih penting daripada sekadar mengetahui seseorang berada di Desil 2, 4, atau 6.

Angka tersebut merupakan hasil dari data dan pemodelan statistik. Karena itu, akurasi dan kemutakhiran data menjadi bagian penting dari proses penentuan posisi kesejahteraan.

Ketika kondisi rumah tangga berubah tetapi belum tercatat dalam data, gambaran yang dibaca sistem berpotensi tidak sepenuhnya mencerminkan keadaan terbaru.

Sebaliknya, pemutakhiran yang akurat memungkinkan sistem menangkap perubahan kondisi sosial-ekonomi rumah tangga.

Masyarakat dapat mengecek data kesejahteraan dan informasi desil melalui situs resmi Cek Bansos Kementerian Sosial RI.

Cek Bansos Kemensos RI — cekbansos.kemensos.go.id. (Fjr)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar