-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●PASANG IKLAN DI SINI●

Siapa KRMT Wiryodiningrat? Tokoh di Balik Pasar Legi Ponorogo yang Kembali Diangkat Lewat Arum Fest

Siapa KRMT Wiryodiningrat? Mengenal tokoh yang berjasa menggagas Pasar Legi Ponorogo dan jejak sejarahnya yang kembali diangkat melalui Arum Fest 2026
Ilustrasi Kirab budaya dalam Arum Fest Kidung Tutur Tamanarum 2026. (Foto: Instagram @arumfest)
GARDAJATIM.COM: Nama Kanjeng Mas Raden Tumenggung (KRMT) Wiryodiningrat kembali menjadi perhatian publik setelah diangkat sebagai tokoh sentral dalam Arum Fest Kidung Tutur Tamanarum 2026.

Di balik kemeriahan festival budaya tersebut, tersimpan kisah seorang pejabat yang meninggalkan jejak penting dalam sejarah pemerintahan dan perekonomian Ponorogo.


Setelah tiba di Ponorogo, ia dipercaya menjabat sebagai Bupati Wedana sementara hingga bupati definitif ditetapkan.

Dalam masa kepemimpinannya, Wiryodiningrat memperoleh wilayah di sekitar pusat kota untuk mendirikan ndalem kabupaten di kawasan Tumenggungan, Mangkujayan. Lokasi tersebut diperkirakan berada di sekitar kawasan Pasar Legi Ponorogo saat ini.

Jejak pengabdiannya tidak hanya terlihat dalam pemerintahan. Wiryodiningrat juga dikenal berjasa mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pendirian Pasar Legi Ponorogo, yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan penting di wilayah tersebut.

Pada masa itu, Pasar Legi dikenal sebagai tempat para pedagang menjual bernung atau mernung, yakni wadah air yang dibuat dari kulit buah maja. Aktivitas perdagangan tersebut begitu melekat sehingga wilayah kekuasaan Wiryodiningrat kemudian dikenal sebagai Kabupaten Mernung, meliputi kawasan Pasar Legi dan sekitarnya.

Warisan sejarah itulah yang menjadi benang merah Arum Fest Kidung Tutur Tamanarum 2026.

Berbagai agenda seperti Kirab Babad Tamanarum, Kidung Tutur, prosesi Menyemai Puspa Kenanga, hingga Festival Sate Ponorogo disusun untuk mengenalkan kembali perjalanan sejarah Tamanarum dan sosok Wiryodiningrat kepada masyarakat.

Lurah Tamanarum Himawan Adi Pramana mengatakan, Arum Fest tidak hanya dirancang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang edukasi sejarah sekaligus penguatan ekonomi kreatif.

"Ini bukan hanya hiburan. Ini gerakan bersama untuk menjaga sejarah, merawat warisan budaya, dan membangun kebiasaan produktif melalui ekonomi kreatif," ujarnya.

Perhatian terhadap sosok Wiryodiningrat juga datang dari Pemerintah Kabupaten Ponorogo. Saat menghadiri puncak Arum Fest pada Sabtu (1/8/2026), Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menyatakan festival tersebut layak dipertimbangkan masuk dalam kalender event resmi daerah. Ia juga membuka peluang penetapan makam KRMT Wiryodiningrat sebagai cagar budaya.

"Arum Fest ini bukti bahwa masyarakat Tamanarum sangat kreatif, berdaya, dan kompak. Ini bukan hanya pelestarian budaya, tetapi juga penggerak ekonomi lokal," kata Lisdyarita.

Catatan sejarah menyebutkan, KRMT Wiryodiningrat wafat pada 27 Ruwah Alip 1755 atau bertepatan dengan 14 Maret 1828.

Ia semula dimakamkan di Gunung Ngredani, Badegan, yang dikenal sebagai kawasan hutan tempat favoritnya berburu. Hingga kini, sumber-sumber sejarah belum menjelaskan penyebab wafatnya.

Seratus hari setelah pemakamannya, jasad Wiryodiningrat dipindahkan ke pekarangannya sendiri di Tamanarum.

Lokasi makam inilah yang kini kembali menjadi perhatian setelah muncul usulan agar ditetapkan sebagai cagar budaya, sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan sejarah Ponorogo.

Di balik Arum Fest, sosok KRMT Wiryodiningrat kembali dikenalkan kepada masyarakat bukan hanya sebagai tokoh sejarah, tetapi juga sebagai figur yang berperan dalam pembentukan pemerintahan awal, pengembangan kawasan kota, dan tumbuhnya pusat perdagangan yang hingga kini masih menjadi denyut ekonomi Ponorogo. (Fjr)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar