Tubuh adalah Amanah, Tapi Mengapa Baru Dirawat Saat Sakit?
Redaksi Garda Jatim
... menit baca
![]() |
| Batu ginjal. Dokter Riza mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan perubahan pada pola berkemih dan menjaga kecukupan asupan cairan. (Foto: Tim Urologi) |
Tubuh digunakan setiap hari untuk bekerja, beribadah, mencari nafkah, mengurus keluarga, dan menjalani kehidupan. Ironisnya, perhatian terhadap tubuh sering baru muncul setelah gangguan kesehatan mulai terasa.
Dokter spesialis urologi yang berpraktik di RSUD dr. Harjono Ponorogo, RSU Muslimat Ponorogo, dan RSU Darmayu Ponorogo, dr. Riza Mazidu Sholihin, Sp.U, mengingatkan bahwa kesehatan tidak semata-mata perkara menghindari penyakit.
Menurut dia, merawat tubuh merupakan bagian dari tanggung jawab manusia atas amanah yang diterimanya.
“Menjaga kesehatan sebenarnya bagian dari menjaga amanah. Tubuh ini bukan milik kita sepenuhnya. Ada tanggung jawab untuk merawatnya,” kata dr. Riza, Kamis, 13 Agustus 2026.
Masalah kesehatan, kata dia, tidak selalu bermula dari penyakit berat. Kebiasaan sehari-hari yang dianggap sepele justru dapat menjadi pintu masuk persoalan.
Kurang minum, terlalu banyak mengonsumsi garam, jarang bergerak, menahan buang air kecil, hingga mengabaikan perubahan pola berkemih merupakan sejumlah kebiasaan yang perlu diperhatikan.
Dalam bidang urologi, kebiasaan tersebut berkaitan dengan organ yang bekerja nyaris tanpa disadari: ginjal, ureter, kandung kemih, prostat, dan saluran kemih.
Ginjal, misalnya, bertugas menyaring darah dan membuang sisa metabolisme melalui urine. Organ ini bekerja setiap hari tanpa menimbulkan banyak tanda ketika mulai mengalami gangguan.
“Ginjal itu sering tidak memberikan tanda pada awal gangguan. Karena itu jangan menunggu sakit baru peduli,” ujar dr. Riza.
Batu saluran kemih menjadi salah satu contohnya. Pedoman Kementerian Kesehatan menyebut batu saluran kemih sebagai salah satu masalah yang paling sering ditangani dalam bidang urologi.
Penyakit tersebut juga dapat berulang dan dalam kondisi tertentu menurunkan fungsi ginjal hingga berujung pada gagal ginjal.
Keluhan yang paling mudah dikenali pasien biasanya berupa nyeri hebat di bagian pinggang.
Namun nyeri tersebut pada dasarnya merupakan alarm bahwa perjalanan urine dari ginjal menuju kandung kemih telah mengalami gangguan.
"Persoalan serupa dapat muncul pada kandung kemih. Frekuensi buang air kecil yang berubah, sering terbangun pada malam hari untuk kencing, sulit menahan urine, pancaran urine melemah, atau perasaan bahwa kandung kemih belum benar-benar kosong kerap dianggap sebagai konsekuensi biasa dari bertambahnya usia. Anggapan semacam itu justru perlu dikoreksi," jelas dr. Riza.
Perubahan pola berkemih layak diperhatikan karena pada laki-laki dapat berkaitan dengan persoalan prostat.
![]() |
| dr. Riza Mazidu dan tim Urologi Sedang melakukan operasi pengambilan batu ginjal. |
Menurutnya, prostat memang mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Pembesaran prostat jinak dapat menghambat aliran urine.
Persoalannya tidak berhenti pada frekuensi seseorang pergi ke kamar mandi. Jika sumbatan berlangsung lama tanpa penanganan, saluran kemih dan fungsi ginjal dapat ikut terdampak.
“Jangan menganggap gangguan kencing sebagai hal yang harus diterima begitu saja karena usia. Kalau ada perubahan, sebaiknya diperiksa,” kata dr. Riza.
Di titik inilah persoalan kesehatan tidak lagi sekadar soal penyakit. Ia berkaitan dengan kesadaran manusia untuk mengenali dan merawat tubuhnya sebelum gangguan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Pola yang sering terjadi sebenarnya sederhana. Ketika sehat, tubuh nyaris tidak menjadi perhatian.
Ketika sakit, barulah seseorang menghitung obat yang harus diminum, biaya pengobatan, waktu yang harus dihabiskan untuk pemulihan, hingga pekerjaan yang tertunda.
Padahal, sebagian risiko kesehatan dapat ditekan melalui kebiasaan sederhana: cukup minum, menjaga berat badan, aktif bergerak, mengatur pola makan, tidak merokok, tidak membiasakan menahan buang air kecil, serta tidak mengabaikan perubahan yang terjadi pada tubuh.
Dr. Riza, yang juga aktif sebagai dosen Akafarma dan Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) PCNU Ponorogo, menilai pendidikan kesehatan tidak semestinya berhenti di ruang praktik dokter.
Pengetahuan tentang kesehatan perlu dibawa lebih dekat kepada masyarakat. Alasannya sederhana: masyarakat yang memahami tubuhnya memiliki peluang lebih besar untuk mengenali tanda bahaya lebih awal.
“Jangan menunggu penyakit menjadi berat. Pemeriksaan lebih awal akan memberikan kesempatan penanganan yang lebih baik,” ujarnya.
Kesadaran pencegahan itu berjalan beriringan dengan perkembangan layanan medis. Di RSUD dr. Harjono Ponorogo, misalnya, layanan urologi telah mengembangkan tindakan minimal invasif, salah satunya operasi laparoskopi kista ginjal.
Dalam enam bulan, tindakan tersebut telah dilakukan sebanyak 10 kali. Keunggulannya antara lain sayatan lebih kecil dan pemulihan yang relatif lebih cepat.
Perkembangan teknologi kedokteran memberi pilihan penanganan yang semakin maju. Namun kemajuan itu tidak semestinya membuat manusia menggantungkan kesehatan sepenuhnya pada rumah sakit.
"Secanggih apa pun teknologi medis, pencegahan tetap memiliki posisi penting," tegasnya.
Menjelang Maulid Nabi Muhammad SAW, pesan tersebut menjadi relevan untuk kembali direnungkan.
Mengenang Rasulullah SAW tidak hanya dilakukan melalui selawat dan kisah perjalanan hidupnya, tetapi juga dengan mengambil pelajaran tentang keseimbangan hidup: bekerja tanpa melupakan istirahat, beribadah tanpa mengabaikan kebutuhan tubuh, makan tanpa berlebihan, serta menjalani kehidupan dengan menjaga keseimbangan.
Tubuh yang sehat memungkinkan manusia menjalankan lebih banyak tanggung jawab. Kaki dapat melangkah menuju masjid, tangan bekerja mencari nafkah, mata membaca ayat-ayat Tuhan, dan tubuh tetap hadir untuk keluarga serta masyarakat.
Karena itu, pertanyaan tentang kesehatan mungkin bukan sekadar kapan terakhir kali seseorang memeriksakan diri.
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sudahkah tubuh diperlakukan sebagai amanah, atau baru dicari perhatiannya ketika mulai sakit?
Maulid Nabi dapat menjadi momentum untuk mengingat kembali hal tersebut. Merawat tubuh bukan berarti manusia terlalu mencintai dunia.
Dengan tubuh yang sehat, manusia justru memiliki kesempatan lebih panjang untuk beribadah, bekerja, menolong sesama, dan menunaikan tanggung jawab kehidupan.
"Tubuh bukan sekadar mesin yang dipaksa bekerja sampai rusak. Ia adalah amanah. Dan setiap amanah pada akhirnya meminta untuk dirawat," tutupnya.
Penulis: Nanang Diyanto
Editor: Redaksi
Sebelumnya
...
Berikutnya
...

