OBITUARI: Selamat Jalan Dekik, Wartawan Simetris yang Dikenang Rekan Sejawat
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Almarhum Hari Prasetyo alias Dekik saat menjalankan tugas jurnalistik di Dinas Pendidikan Ponorogo. (Foto: Istimewa) |
Dekik meninggal dunia di rumah duka, Desa Koripan, Kecamatan Bungkal, Ponorogo. Sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan medis di rumah sakit di Ponorogo hingga Solo karena penyakit yang dideritanya.
Kepergiannya bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga. Di kalangan wartawan Ponorogo, Dekik dikenang sebagai sosok yang peduli kepada sesama dan tidak segan berbagi pengalaman.
Bagi Arianto, rekan sejawatnya, Dekik adalah sosok yang memiliki cara sederhana untuk membantu orang lain: berbagi apa yang ia ketahui.
Pengalaman selama menjalani profesi jurnalistik sering menjadi bahan obrolan dan pembelajaran bersama. Ia tidak menyimpan pengetahuan itu untuk dirinya sendiri.
Ada banyak cerita tentang dunia jurnalistik yang pernah dibagikannya kepada rekan-rekan.
Dari pengalaman di lapangan hingga berbagai dinamika yang dihadapi seorang wartawan dalam menjalankan tugas.
![]() |
| Hasil Karya Jurnalistik Hari Prasetyo (Dekik) |
Pertemuan Terakhir di Tengah Tugas Jurnalistik
Bagi Fajar, salah satu kenangan yang sulit dilupakan adalah pertemuan terakhir dengan Dekik pada 7 Agustus 2026.
Saat itu, keduanya masih bersama-sama melakukan peliputan kegiatan di wilayah Siman.
Tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan tersebut kelak menjadi salah satu kenangan terakhir bersama seorang rekan seperjuangan.
Di balik aktivitas peliputan itu, kondisi kesehatan Dekik sebenarnya sudah mengharuskannya menjalani perawatan medis.
Namun, kenangan tentang dirinya tidak berhenti pada sakit yang diderita. Yang lebih melekat bagi rekan-rekannya adalah sosok wartawan yang tetap hadir sebagai teman, berbagi pengalaman, dan peduli kepada lingkungan seprofesinya.
Kini, aktivitas jurnalistik itu telah berhenti untuknya.
Bukan Hanya Karya, tetapi Juga Ilmu yang Ditinggalkan
Seorang wartawan mungkin meninggalkan banyak tulisan setelah dirinya pergi. Namun, bagi mereka yang pernah mengenalnya, warisan seorang wartawan tidak selalu berbentuk karya yang terbit di media.
Ada ilmu yang pernah dibagikan. Ada pengalaman yang pernah diceritakan. Ada persahabatan yang tumbuh dari kebersamaan di lapangan.
Itulah yang kini dikenang dari sosok Dekik.
Bagi rekan-rekannya, tulisan-tulisan yang pernah dibuatnya akan menjadi bagian dari jejak perjalanan.
Sementara ilmu dan pengalaman yang pernah dibagikan dapat terus diteruskan kepada orang lain.
Karena itu, kepergian Dekik bukan sekadar kehilangan seorang rekan kerja. Bagi lingkungan jurnalistik Ponorogo, ia meninggalkan kenangan tentang seorang kawan yang mau berbagi dan peduli kepada sesama.
“Sekarang Mas Dekik sudah tidak merasakan sakit lagi,” ungkap Fajar, mengenang kepergian sahabatnya.
Hari ini, rekan-rekan seprofesinya hanya bisa mengantar kepergian itu dengan doa.
Selamat jalan, Mas Dekik.
Terima kasih atas persahabatan, kepedulian, cerita, pengalaman, dan ilmu yang pernah dibagikan. Karyamu akan terus dikenang, sementara setiap kebaikan yang pernah ditanam semoga menjadi amal yang terus mengalir.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.
Al-Fatihah. (*)
Sebelumnya
...



