Ponorogo Inotech Award 2026 Diikuti 78 Inovasi, Pemkab Siapkan Replikasi Karya Terbaik
Redaksi
... menit baca
![]() |
| Luhur Apidianto, S.STP., M.Si., Plt Kepala Bapperida Kabupaten Ponorogo. (Foto: Istimewa) |
Kompetisi yang diikuti 78 inovasi dari berbagai sektor tersebut tidak hanya berorientasi pada pemberian penghargaan, tetapi juga diarahkan agar karya terbaik dapat diterapkan dan direplikasi di lingkungan yang lebih luas.
Upaya ini menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah untuk memperbaiki pengelolaan inovasi, mulai dari pendataan, penilaian, hingga integrasi hasil inovasi ke dalam dokumen perencanaan daerah.
Plt Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Ponorogo, Luhur Apidianto, S.STP., M.Si., mengatakan, Ponorogo Inotech Award mulai dilaksanakan pada Mei 2026.
Penyelenggaraan kompetisi tersebut dilatarbelakangi kebutuhan untuk meningkatkan nilai inovasi daerah.
Luhur menyebut, berdasarkan penilaian Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri, posisi inovasi Kabupaten Ponorogo masih perlu ditingkatkan.
Dalam keterangannya, ia menyebut Ponorogo berada di peringkat ke-30 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur dan peringkat ke-126 secara nasional.
Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu dibenahi adalah belum optimalnya koordinasi inovasi agar hasilnya dapat terhubung dengan program dan kegiatan pemerintah daerah.
"Setelah mulai lomba melalui database, kemudian dimasukkan database, kemudian dijabarkan kepada program kegiatan dokumen perencana daerah," ujar Luhur, Jumat, 30 Oktober 2026.
78 Inovasi dari Berbagai Sektor
Pada penyelenggaraan perdana ini, terdapat 78 inovasi yang mengikuti kompetisi. Peserta berasal dari berbagai lembaga pendidikan, perguruan tinggi, organisasi perangkat daerah (OPD), hingga sektor pelayanan kesehatan.
Lomba tersebut dibagi menjadi tujuh kategori, meliputi pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan tinggi, perangkat daerah, serta bidang pelayanan kesehatan dan kategori lainnya sesuai pembagian panitia.
Setiap kategori kemudian melalui proses seleksi untuk menentukan lima inovasi terbaik yang berhak melaju ke babak final. Dengan demikian, terdapat sekitar 35 finalis dari tujuh kategori.
Tahap presentasi final telah berlangsung sekitar dua minggu sebelum wawancara. Para peserta memaparkan inovasi masing-masing di hadapan tim juri yang melibatkan unsur Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Jawa Timur, akademisi, serta perwakilan internal pemerintah daerah.
Luhur menjelaskan, proses penilaian dilanjutkan melalui rapat pleno untuk menentukan para pemenang.
Finalis Tampilkan Inovasi dalam Expo
Rangkaian Ponorogo Inotech Award 2026 juga akan terintegrasi dengan kegiatan Kemilau Pekan Raya.
Para finalis mendapat kesempatan menampilkan inovasi sekaligus memperkenalkan karakter lembaga masing-masing melalui kegiatan expo.
Luhur, yang juga bertanggung jawab sebagai koordinator expo, mengatakan, sekitar 35 finalis akan menampilkan karya inovasi yang diikutsertakan dalam kompetisi.
Pameran tersebut direncanakan berlangsung pada tanggal 3, 4, dan 5 di kawasan Alun-alun Ponorogo, sebagai bagian dari rangkaian Kemilau Pekan Raya.
Menurut Luhur, kegiatan expo bukan lagi bagian dari penilaian lomba karena tahapan presentasi final telah dilaksanakan sebelumnya. Pameran lebih diarahkan sebagai ruang untuk memperkenalkan inovasi kepada masyarakat.
Inovasi Terbaik Berpeluang Direplikasi
Salah satu hal yang menjadi perhatian Bapperida Ponorogo adalah keberlanjutan inovasi setelah kompetisi selesai.
Pemerintah daerah berupaya agar karya peserta tidak hanya menjadi dokumen perlombaan atau berhenti setelah pemberian penghargaan.
Luhur mengatakan, inovasi yang dinilai memiliki potensi akan disinkronkan dengan dokumen perencanaan daerah.
Dengan begitu, hasil kompetisi dapat dipertimbangkan untuk diterapkan sesuai kebutuhan.
"Selain itu inovasinya tidak kita diamkan, inovasinya nanti akan kita coba sinkronkan dengan dokumen perencanaan," tegasnya.
Ia mencontohkan inovasi berupa sistem atau aplikasi yang dikembangkan sekolah untuk mempermudah proses belajar mengajar. Jika dinilai baik, inovasi tersebut berpeluang diterapkan di sekolah lain.
"Kalau misalnya ada sekolah yang menemukan sistem atau aplikasi untuk mempermudah proses belajar mengajar, kalau itu bagus, bisa kita replikasikan kepada sekolah-sekolah yang lainnya," jelas Luhur.
Dengan demikian, kompetisi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan pemenang, tetapi juga membuka peluang pengembangan inovasi yang dapat dimanfaatkan lintas lembaga.
Disiapkan Menjadi Agenda Tahunan
Dalam kompetisi tersebut, penghargaan disiapkan bagi juara pertama, kedua, dan ketiga, serta juara harapan pertama dan kedua pada setiap kategori.
Namun, Luhur menekankan bahwa tujuan kegiatan tidak semata-mata memberikan hadiah kepada para pemenang.
Lebih jauh, kompetisi ini diharapkan menjadi sarana untuk mengidentifikasi dan mengembangkan potensi inovasi di Kabupaten Ponorogo.
Ia juga berharap Ponorogo Inotech Award dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun sebagai bagian dari upaya mendorong tumbuhnya inovasi di lingkungan pemerintah, pendidikan, dan pelayanan masyarakat.
"Insyaallah, Mas, itu penting karena inovasi ini," ujarnya.
Melalui Ponorogo Inotech Award 2026, Pemkab Ponorogo berupaya membangun pengelolaan inovasi yang lebih terarah, sehingga karya yang dihasilkan berbagai lembaga tidak berhenti pada kompetisi, tetapi memiliki peluang untuk dikembangkan dan diterapkan dalam program pembangunan daerah. (Fjr/Red)
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
