-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
PROMOSIKAN BISNIS ANDA DISINI - HUBUNGI: +62 856-5561-5145

Atika Ajak Petani Kopi Ponorogo Perkuat Kualitas dan Daya Saing Pasar

Anggota Komisi D DPRD Jawa Timur Hj. Atika Banowati, S.H., bersama peserta sosialisasi di Embung Pakel, Desa Patik. (Foto: doc. Gardajatim.com)
GARDAJATIM.COM:
Anggota Komisi D DPRD Provinsi Jawa Timur, Hj. Atika Banowati, S.H., mengajak petani kopi di Ponorogo untuk memperkuat kualitas produk sekaligus meningkatkan daya saing pasar agar kopi lokal mampu berdiri dengan identitasnya sendiri di tengah persaingan nasional hingga global.

Ajakan tersebut disampaikan Atika saat kegiatan sosialisasi bertema Peran Pemerintah dalam Budidaya, Pengolahan Panen dan Pascapanen Kopi yang digelar di Embung Pakel, Desa Patik, Kabupaten Ponorogo, Jumat, 6 Februari 2026. Kegiatan ini dihadiri petani kopi, pelaku usaha, serta warga desa sekitar.

Dalam sambutannya, Atika menyebut sosialisasi tersebut sebagai bentuk pendekatan langsung dengan petani kopi untuk menyerap aspirasi sekaligus memperkuat pemahaman tentang pengelolaan kopi dari hulu hingga hilir.

Ia menilai, penguatan kualitas menjadi kunci utama agar produk kopi Ponorogo mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Atika menyoroti potensi besar Ponorogo sebagai daerah penghasil kopi. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berdampak pada kesejahteraan petani karena masih lemahnya identitas produk di pasaran.

Ia menyebut banyak kopi asal Ponorogo yang beredar dengan nama daerah lain.
“Biji kopinya dari Ponorogo, tapi saat dijual sudah bukan lagi bernama kopi Ponorogo. Ini yang harus kita benahi bersama,” kata Atika.
Hj. Atika Banowati, S.H., saat menyampaikan sambutan dalam sosialisasi peran pemerintah dalam budidaya, panen, dan pascapanen kopi bersama petani di Embung Pakel, Desa Patik.
Ia mendorong petani dan pelaku usaha kopi agar berani memasarkan produknya dengan identitas Ponorogo. Menurut dia, dukungan masyarakat lokal menjadi faktor penting dalam membangun citra dan kekuatan merek kopi daerah.

“Budaya ngopi di Ponorogo sangat kuat, dari angkringan sampai kafe-kafe desa. Banyak yang sudah menggunakan kopi lokal. Kalau digunakan dan dibanggakan oleh warganya sendiri, pelan-pelan kopi Ponorogo akan dikenal luas,” ujarnya.

Atika berharap kegiatan sosialisasi ini dapat menjadi ruang pencerahan bagi petani dan pengusaha kopi, tidak hanya terkait aspek teknis budidaya, tetapi juga strategi pemasaran dan penguatan daya saing.

Ia menilai pasar kopi masih sangat terbuka dan memiliki potensi besar jika dikelola secara serius.

Sementara itu, Lukito Hari Sediarto selaku narasumber menekankan pentingnya perbaikan budidaya sebagai fondasi kualitas kopi.

Ia menjelaskan kopi Arabika idealnya ditanam di ketinggian di atas 1.000 meter di atas permukaan laut, sedangkan Robusta cocok di kisaran 600 meter.

“Petani harus memahami kesuburan tanah, pohon naungan, pengendalian hama, pemupukan, hingga pemangkasan. Semua itu menentukan kualitas kopi,” kata Lukito.

Ia juga menekankan pentingnya proses panen dan pascapanen yang tepat, mulai dari pemetikan selektif, pengeringan, sortasi, hingga penyimpanan. 

Menurutnya, kualitas yang terjaga akan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi kopi Ponorogo.

“Kalau prosesnya benar, kopi Ponorogo bisa punya kualitas tinggi dan nilai jual global. Pasarnya besar,” tutupnya. (GJ01)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar