-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●MARHABAN YAA RAMADAN - 1447 HIJRIAH●

Struktur Rapi, Akar Terabaikan: Nasib Pelatih Rayon PSHT

Ilustrasi.
GARDAJATIM.COM:
Di tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), struktur organisasi nyaris tak menyisakan celah. Dari Pusat, Cabang, Ranting/Komisariat, hingga Rayon, semua tertata rapi secara administratif.

Surat keputusan berjenjang, kepengurusan lengkap, hingga agenda tahunan tersusun sistematis. Di atas kertas, organisasi ini tampak kokoh dan modern.

Namun, ada satu simpul yang kerap luput dari perhatian: pelatih di tingkat Rayon.

Rayon adalah dapur pembinaan. Di sanalah calon warga ditempa, fisik, mental, dan nilai persaudaraannya.

Pelatih Rayon bukan sekadar instruktur teknik jurus. Mereka adalah pendidik karakter, penengah konflik, sekaligus orang tua kedua bagi para siswa.

Ironisnya, posisi sepenting itu sering kali berdiri di atas fondasi yang rapuh: minim dukungan, terbatas fasilitas, dan nyaris tanpa insentif.

Struktur boleh rapi, tetapi perhatian tak selalu mengalir sampai ke bawah.

Banyak pelatih Rayon bekerja atas dasar pengabdian murni. Mereka melatih selepas jam kerja, menggunakan dana pribadi untuk kebutuhan latihan, bahkan menanggung biaya transportasi saat mengikuti kegiatan di tingkat Ranting atau Cabang.

Dalam sejumlah kasus, pelatih justru menjadi pihak terakhir yang mengetahui kebijakan baru, padahal mereka yang paling terdampak dalam pelaksanaannya.

Situasi ini menyisakan pertanyaan mendasar: apakah organisasi sebesar PSHT sudah menempatkan pembinaan di tingkat akar rumput sebagai prioritas utama?

Administrasi memang penting. Legalitas, pengesahan kepengurusan, hingga tata kelola organisasi menjadi fondasi yang tak bisa diabaikan.

Tetapi organisasi pencak silat bukan semata soal struktur. Ia hidup dari interaksi langsung antara pelatih dan siswa di lapangan.

Jika di level itulah terjadi kelelahan struktural, minim pelatihan lanjutan bagi pelatih, kurangnya forum aspirasi, atau ketimpangan distribusi perhatian, maka kerapian di tingkat atas hanya menjadi simbol.

Tak sedikit pelatih Rayon yang mengaku kesulitan mengakses program peningkatan kapasitas. Padahal, dinamika generasi muda berubah cepat.

Tantangan pembinaan hari ini bukan hanya soal teknik beladiri, melainkan juga penguatan nilai, pengendalian emosi, dan literasi digital. Tanpa dukungan organisasi, pelatih berjalan sendiri menghadapi kompleksitas zaman.

Lebih jauh, ketimpangan perhatian berpotensi melahirkan jarak psikologis antara pengurus struktural dan pelaksana teknis di bawah.

Dalam jangka panjang, ini dapat menggerus soliditas internal, sesuatu yang justru menjadi ruh utama dalam ajaran persaudaraan.

PSHT memiliki sejarah panjang dan basis massa besar di berbagai daerah. Modal sosial itu seharusnya menjadi kekuatan untuk membangun sistem pembinaan berlapis yang adil dan berkelanjutan.

Perhatian terhadap pelatih Rayon tak harus selalu berbentuk materi. Pengakuan formal, ruang dialog rutin, pelatihan berkala, hingga sistem evaluasi yang partisipatif dapat menjadi langkah awal.

Organisasi besar sering kali terjebak pada glorifikasi struktur, lupa bahwa denyut kehidupan justru berada di tingkat paling bawah.

Jika Rayon adalah akar, maka pelatih adalah penjaganya. Tanpa akar yang sehat, pohon sebesar apa pun akan rapuh diterpa angin.

Mungkin sudah saatnya PSHT meninjau ulang prioritasnya. Kerapian administrasi patut diapresiasi. Namun menjaga semangat pengabdian pelatih di Rayon jauh lebih mendesak. Sebab di tangan merekalah masa depan persaudaraan itu ditentukan.



Oleh: M.Ng. Fajar Setiawan Wartoprasetyo
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar