-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
●MARHABAN YAA RAMADAN - 1447 HIJRIAH●

Tak Sekadar Tontonan, “Banyuwangi Attractions 2026” Jadi Strategi Pembangunan Daerah Berbasis Budaya

Ribuan penari tampil dalam atraksi budaya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. (Foto: Istimewa)
GARDAJATIM.COM:
Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu episentrum budaya di Indonesia. Melalui “Banyuwangi Attractions 2026”, pemerintah daerah tak sekadar menyuguhkan rangkaian pertunjukan seni dan olahraga, melainkan merancangnya sebagai strategi pembangunan berbasis budaya yang berkelanjutan.

Sebanyak 86 atraksi disiapkan sepanjang tahun 2026. Sebagian besar merupakan tradisi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat, seperti Barong Ider Bumi, Tumpeng Sewu, Seblang, hingga Kebo-Keboan.

Event-event tersebut bukan hanya dirawat sebagai warisan budaya, tetapi juga dikemas menjadi daya tarik wisata yang memberi dampak ekonomi bagi warga.

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, mengatakan Banyuwangi Attractions menjadi salah satu cara menguatkan identitas lokal sekaligus ruang konsolidasi masyarakat. 

Program ini, kata dia, sejalan dengan agenda nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang mendorong daerah memperkuat seni budaya sebagai kekayaan nasional.

“Banyuwangi dikenal sebagai daerah yang kaya tradisi dan seni pertunjukan. Namun budaya tidak cukup hanya diwariskan ia harus dirawat, dipentaskan, dan dibanggakan,” ujar Ipuk, Sabtu, 21 Februari 2026.

Pemkab Banyuwangi sendiri telah meluncurkan Banyuwangi ASRI sebagai bentuk akselerasi program nasional tersebut. Dalam komponen “Indah”, implementasinya diwujudkan melalui pembangunan pariwisata berkelanjutan, ramah lingkungan, dan berbasis kearifan lokal. Banyuwangi Attractions menjadi salah satu instrumen utamanya.

Sejumlah agenda unggulan dijadwalkan meramaikan kalender 2026, antara lain Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, Gandrung Sewu (24 Oktober), Seblang Olehsari (23–29 Maret), Kebo-Keboan Alasmalang (28 Juni), serta Petik Laut Muncar (10 Juli). Event-event ini tak hanya menarik wisatawan, tetapi juga melibatkan komunitas adat, pelaku seni, dan generasi muda.

Selain budaya, Banyuwangi juga memadukan sport tourism dalam rangkaian atraksinya. Event seperti Banyuwangi BMX Super Cross (27 Juni), Banyuwangi Ijen Geopark Downhill (19–20 September), serta Ijen Green Run/Trail 2026 (12 September) disiapkan untuk menyasar pecinta olahraga dan wisata alam.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, Hartono, menyebut Banyuwangi Attractions bukan sekadar agenda wisata tahunan.

Ia menilai program ini merupakan strategi pembangunan daerah yang mengintegrasikan budaya, olahraga, ekonomi kreatif, dan pelestarian lingkungan.

“Kami percaya, ketika budaya dijaga, olahraga digerakkan, dan lingkungan dirawat, maka pembangunan akan berjalan lebih berkelanjutan dan inklusif,” kata Hartono.

Dengan pendekatan tersebut, Banyuwangi berupaya memastikan bahwa tradisi tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman bukan sekadar tontonan musiman, melainkan fondasi pembangunan daerah yang bertumpu pada identitas dan partisipasi masyarakat.



Sumber: Pemkab Banyuwangi
Editor: Redaksi
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar