![]() |
| dr. Riza Mazidu Sholihin, Sp.U. |
GARDAJATIM.COM: Lonjakan konsumsi makanan saat Lebaran berpotensi memicu gangguan kesehatan jika tidak dikendalikan. Perubahan pola makan secara drastis setelah sebulan berpuasa dinilai menjadi titik rawan yang kerap luput dari perhatian masyarakat.
Dokter Riza Mazidu Sholihin, Sp.U mengatakan, selama Ramadan tubuh terbiasa dengan ritme makan yang teratur dan terbatas.
Namun saat Idul Fitri, pola tersebut berubah mendadak seiring melimpahnya sajian makanan di berbagai kesempatan silaturahmi.
“Tubuh yang sudah beradaptasi selama puasa menjadi lebih sensitif terhadap asupan berlebih, terutama makanan tinggi gula, lemak, dan kalori,” ujar Riza, Sabtu, 21 Maret 2026.
Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Ponorogo itu menjelaskan, lonjakan konsumsi secara tiba-tiba dapat berdampak pada sistem pencernaan, kadar gula darah, hingga tekanan darah.
Kondisi tersebut, menurut dia, berisiko memicu gangguan kesehatan, terutama bagi individu dengan penyakit bawaan.
Riza mengingatkan, Lebaran seharusnya tidak dimaknai sebagai momen “balas dendam” setelah menahan makan dan minum selama Ramadan.
Ia menyarankan masyarakat tetap menjaga keseimbangan pola konsumsi dengan prinsip sederhana.
Ia memperkenalkan konsep BNI (Batasi, Nikmati, Imbangi) sebagai panduan menjaga pola makan. Batasi berarti mengontrol porsi makan meski pilihan hidangan beragam. Nikmati mengacu pada kebiasaan makan secara sadar dan tidak tergesa-gesa.
Adapun Imbangi dilakukan dengan mengatur asupan, memperbanyak konsumsi air putih, serta menyeimbangkannya dengan aktivitas fisik.
Menurut dia, perhatian khusus perlu diberikan kepada penderita penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan ginjal.
“Penyakit yang sudah ada sebelumnya tidak hilang setelah puasa. Justru dalam situasi seperti Lebaran, kedisiplinan menjadi semakin penting,” kata Riza.
Ia menambahkan, menjaga pola makan saat Lebaran bukan berarti mengurangi kebahagiaan, melainkan upaya menjaga kondisi tubuh tetap stabil.
Ramadan, kata dia, telah melatih pengendalian diri yang seharusnya tetap diterapkan setelahnya.
“Pengendalian diri justru diuji saat semua tersedia,” ujarnya.
Nanang Diyanto
Editor: Redaksi
