Soal Lebaran Beda, Suli Da’im Ingatkan: Jangan Jadikan Ijtihad Sebagai Konflik Akidah

DR. H. Suli Da’im, M.M.

GARDAJATIM.COM:
 Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kembali terjadi di Indonesia. Namun, legislator Jawa Timur, Suli Da’im, mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak disikapi secara berlebihan hingga menyentuh ranah akidah.

Hal itu disampaikan Suli saat menyampaikan khutbah Idul Fitri di Lapangan Panser Sumput, Sidoarjo, yang dipadati ratusan jamaah. 

Meski terdapat perbedaan waktu pelaksanaan dengan keputusan pemerintah, pelaksanaan salat berlangsung khidmat dan tertib.

Dalam khutbahnya, Suli Da'im menegaskan, bahwa perbedaan dalam menentukan awal Ramadan maupun Syawal merupakan hal yang lazim dalam tradisi keilmuan Islam. 

Perbedaan tersebut, kata dia, lahir dari metode ijtihad yang memiliki dasar kuat, baik melalui rukyat (pengamatan hilal) maupun hisab (perhitungan astronomi).

“Perbedaan ini bukan hal baru. Baik rukyat maupun hisab memiliki dasar syar’i dan pijakan ilmiah yang kuat,” ujarnya di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan, legitimasi penggunaan metode hisab dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, salah satunya Surat Yunus ayat 5, yang menyebutkan fungsi matahari dan bulan untuk perhitungan waktu.

Menurut dia, ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengakomodasi, tetapi juga mendorong pendekatan rasional dan ilmiah.

Ia menekankan bahwa perbedaan metode tersebut masuk dalam wilayah ijtihadiyah, yakni ranah penafsiran yang terbuka untuk perbedaan pendapat.

Karena itu, ia mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi konflik yang menyentuh keyakinan dasar.

“Jangan jadikan perbedaan ijtihad sebagai konflik akidah. Ini wilayah keilmuan, bukan untuk saling menyalahkan,” kata dia.

Mantan Ketua Umum PW Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur itu juga mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah keberagaman pandangan.

Menurut dia, perbedaan antarorganisasi keagamaan merupakan bagian dari kekayaan khazanah Islam, bukan sumber perpecahan.

Ia juga menyinggung wacana Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai salah satu upaya menyatukan penanggalan Islam secara internasional.

Gagasan tersebut dinilai penting untuk memudahkan koordinasi pelaksanaan ibadah umat Islam di berbagai negara.

Di akhir khutbahnya, Suli mengajak umat Islam menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat ukhuwah, baik dalam konteks keislaman maupun kebangsaan.

“Persatuan bukan berarti menyeragamkan, tetapi bagaimana tetap bersaudara dalam perbedaan,” ujarnya. (Muh Nurcholis)

Baca Juga
Tag:
Berita Terbaru
  • Soal Lebaran Beda, Suli Da’im Ingatkan: Jangan Jadikan Ijtihad Sebagai Konflik Akidah
  • Soal Lebaran Beda, Suli Da’im Ingatkan: Jangan Jadikan Ijtihad Sebagai Konflik Akidah
  • Soal Lebaran Beda, Suli Da’im Ingatkan: Jangan Jadikan Ijtihad Sebagai Konflik Akidah
  • Soal Lebaran Beda, Suli Da’im Ingatkan: Jangan Jadikan Ijtihad Sebagai Konflik Akidah
  • Soal Lebaran Beda, Suli Da’im Ingatkan: Jangan Jadikan Ijtihad Sebagai Konflik Akidah
  • Soal Lebaran Beda, Suli Da’im Ingatkan: Jangan Jadikan Ijtihad Sebagai Konflik Akidah
Posting Komentar