-->
bWJ4VIvabJt7GuIhCGKP0i6PjNDtbsjBe315cFMJ
Bookmark
PROMOSIKAN BISNIS ANDA DISINI - HUBUNGI: +62 856-5561-5145

Kirab Agung dan Sabda Raja: Jumenengan PB XIV Kokohkan Legitimasi Raja Baru di Keraton Surakarta

SISKS Pakoe Boewono XIV berada di Dalem Ageng, sesaat sebelum kirab Agung dimulai. (Foto: Arga Narulata)
GARDAJATIM.COM
: Kirab Agung dan pembacaan Sabda Raja menjadi puncak prosesi Jumenengan Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Pakoe Boewono XIV sukses digelar dengan khidmat pada Sabtu (15/11/2025).

Rangkaian sakral tersebut menandai kokohnya legitimasi Raja baru Kasunanan Surakarta sekaligus menegaskan keberlanjutan paugeran adat di tengah suasana duka wafatnya PB XIII.

Upacara Jumenengan Dalem dimulai sejak pagi hari di dalam kompleks Keraton Surakarta.

Prosesi internal dilaksanakan tepat pukul 10.00 WIB di Ndalem Ageng Prabu Suryoso, ruang yang dinilai sangat sakral dan tertutup bagi umum.

Di tempat inilah penetapan adat dilakukan melalui doa-doa, penegasan suksesi, hingga prosesi simbolik yang hanya diketahui oleh para sesepuh keraton.

Pada pukul 10.49 WIB, rangkaian bergerak menuju Siti Hinggil dan dilanjutkan hingga Sang Raja tiba di Bangsal Manguntur Tangkil sekitar pukul 11.05 WIB.

Di bangsal inilah Pakoe Boewono XIV secara resmi jumeneng, bertakhta, sebagai pemimpin tertinggi Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Prosesi Kirab Agung dengan Kereta Pusaka Garuda Kencana.
Putri tertua mendiang PB XIII, GKR Timoer Rumbaikusuma Dewayani, sebelumnya menjelaskan bahwa seluruh alur prosesi telah dipersiapkan sesuai paugeran adat yang berlaku.

“Rangkaian dilakukan bertahap, dimulai dari upacara internal di dalam keraton. Setelah itu berjalan menuju Siti Hinggil hingga ke Bangsal Manguntur Tangkil,” ujarnya dalam konferensi pers sehari sebelumnya.

Sabda Raja: Peneguhan Kepemimpinan

Setelah dinyatakan resmi bertakhta, PB XIV menyampaikan Sabda Dalem atau Sabda Raja, sebuah sumpah adat yang menjadi penanda kesiapan raja menjalankan amanah kepemimpinan.

Momen ini disertai dentingan Gamelan Monggang, gamelan sakral yang hanya dimainkan pada upacara kenegaraan paling penting, yang menambah kekhidmatan suasana.

Sabda Raja tidak hanya menjadi ucapan simbolik, tetapi juga bentuk pernyataan moral dan spiritual seorang raja terhadap rakyat, keraton, serta leluhur Kasunanan Surakarta. 

Prosesi ini dianggap sebagai pilar legitimasi bagi PB XIV untuk melanjutkan estafet kepemimpinan yang sebelumnya diemban PB XIII.

Kirab Agung: Simbol Kekuasaan dan Filosofi Perjalanan

Usai penobatan, PB XIV memimpin Kirab Agung yang dimulai sekitar pukul 11.50 WIB. Sang raja mengenakan busana kebesaran Takwo dan menaiki kereta pusaka Garuda Kencana, kendaraan yang secara tradisi hanya digunakan oleh seorang raja.

Kirab dimulai dari Sasono Sumeno pada pukul 12.00 WIB, mengelilingi benteng Keraton Surakarta dengan rute: Alun-alun Lor – Gladak – Telkom – Loji Wetan – Perempatan Baturono – Gemblegan – Gladak – kembali ke Alun-alun.
Kereta Pusaka Garuda Kencana yang membawa PB XIV beserta rombongan kirab. 
Rute tersebut dipilih bukan sekadar jalur prosesi, melainkan perjalanan simbolik yang menggambarkan perlindungan, legitimasi, dan hubungan mendalam antara raja dan wilayah kekuasaannya.

Sejumlah kerabat keraton, termasuk para gusti sepuh dan cucu-cucu PB XII serta PB XIII, turut serta dalam kirab. Sebagian menunggang kuda, menambah nuansa tradisional yang kuat.

Peneguhan Suksesi dan Penguatan Tradisi

Jumenengan PB XIV diperkuat oleh ikrar kesetiaan KGPAA Hamangkunagoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram pada 5 November 2025, bertepatan dengan prosesi pemberangkatan jenazah PB XIII ke Imogiri. Ikrar tersebut menjadi penanda bahwa garis suksesi berjalan mulus dan mendapat restu keluarga inti.

Bagi Keraton Surakarta, Jumenengan tahun ini tidak sekadar pergantian pemimpin, tetapi juga momentum pelestarian tradisi Jawa yang telah bertahan ratusan tahun. 

Prosesi, simbol, tata adat, hingga rute kirab menjadi pengingat bahwa di tengah modernitas yang terus bergerak, nilai-nilai adiluhung tetap dijaga dan diwariskan.

Dengan selesainya prosesi Kirab Agung dan Sabda Raja, kepemimpinan Pakoe Boewono XIV kini resmi dan kokoh di mata keraton, keluarga besar, serta masyarakat yang menyaksikan.

Jumenengan Dalem 2025 pun menjadi bukti bahwa Keraton Surakarta tetap menjadi pusat budaya, filosofi kepemimpinan, dan warisan leluhur yang tetap relevan hingga hari ini. (Arg)
Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar