Minuman Kekinian Mengiringi Budaya Nongkrong, Dokter Ingatkan Ancaman Senyap bagi Ginjal
![]() |
| Ilustrasi: Istimewa |
Namun, di balik tren tersebut, konsumsi minuman kekinian yang tinggi gula dinilai menyimpan risiko kesehatan yang kerap luput dari perhatian, terutama bagi ginjal.
Hal itu disampaikan dokter spesialis urologi RSUD dr. Harjono Ponorogo, dr. Riza Mazidu Sholihin, SpU, dalam keterangannya Senin, (12/01/2026).
Menurut dr. Mazidu, beragam minuman yang umum disajikan di kafe, mulai dari kopi susu, teh manis berperisa, minuman dingin berwarna cerah, hingga minuman energi, sering dikonsumsi secara berulang tanpa diimbangi asupan air putih yang cukup. Pola inilah yang menjadi persoalan utama.
“Masalahnya bukan pada nongkrong atau kafenya, tetapi pada pola minum yang berulang, tinggi gula, dan sering kali tidak diimbangi air putih,” ujar dr. Mazidu.
Berdasarkan berbagai jurnal kesehatan yang ia rujuk serta pengalaman klinis sehari-hari, dr. Mazidu menjelaskan bahwa minuman dengan kandungan gula tinggi, pemanis buatan, zat pewarna, dan pengawet tertentu memberikan beban tambahan pada ginjal.
Organ tersebut harus bekerja lebih keras menyaring zat-zat yang sebenarnya tidak dibutuhkan tubuh. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, penurunan fungsi ginjal dapat terjadi lebih cepat.
Ironisnya, gangguan ginjal jarang menimbulkan keluhan pada tahap awal. Tidak ada rasa sakit yang jelas maupun tanda peringatan yang mudah dikenali.
Kerusakan berlangsung perlahan dan sering kali baru terdeteksi ketika fungsi ginjal sudah menurun secara signifikan.
“Ginjal itu organ yang sabar. Ia rusak tanpa banyak protes,” kata dr. Mazidu.
Ia menambahkan, konsumsi gula berlebih juga berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko obesitas dan diabetes.
Dua penyakit metabolik tersebut merupakan penyebab utama penyakit ginjal kronik. Selain itu, minuman berkafein terutama jika dikonsumsi tanpa cukup asupan cairan dapat memicu dehidrasi ringan yang membuat proses penyaringan ginjal tidak berjalan optimal.
Fenomena ini semakin relevan karena budaya nongkrong cenderung bersifat repetitif. Satu kali kunjungan ke kafe jarang berhenti pada satu gelas minuman. Bahkan, kebiasaan ini kerap dilakukan setiap hari, atau lebih dari sekali dalam sehari.
Minuman dingin dan manis memang terasa menyenangkan saat menemani obrolan panjang, namun tanpa disadari, ginjal menerima beban tambahan dari waktu ke waktu.
Isu tersebut tidak hanya menyasar anak muda, tetapi juga keluarga. Banyak orang tua beranggapan bahwa minuman di kafe lebih aman dibandingkan jajanan jalanan.
Padahal, menurut dr. Mazidu, risiko justru kerap tersembunyi di balik kemasan yang rapi dan citra modern.
“Yang terlihat bersih belum tentu ringan bagi ginjal,” ujarnya.
Pada usia remaja, fungsi ginjal umumnya masih sangat baik. Namun, kebiasaan konsumsi yang dibentuk sejak usia dini akan menentukan kualitas kesehatan di masa depan.
Konsumsi gula berlebih terbukti meningkatkan risiko hipertensi dan diabetes pada usia yang semakin muda, dua kondisi yang menjadi pintu masuk gangguan ginjal di kemudian hari.
“Hari ini mungkin belum terlihat, tetapi prosesnya sudah dimulai,” kata dr. Mazidu.
Ia menekankan pentingnya peran keluarga dalam membentuk kesadaran kesehatan. Tidak hanya melalui makanan dan minuman yang disajikan di rumah, tetapi juga melalui sikap terhadap kebiasaan konsumsi di luar rumah.
Ketika nongkrong di kafe menjadi bagian dari aktivitas keluarga, seperti merayakan ulang tahun atau menghabiskan akhir pekan, pilihan minuman sering kali luput dari perhatian.
Menurutnya, edukasi kesehatan tidak harus disampaikan dalam bentuk larangan. Memberi contoh justru lebih efektif.
Orang tua yang terbiasa memilih minuman rendah gula dan membiasakan konsumsi air putih secara tidak langsung membentuk pola pikir anak.
“Anak belajar dari kebiasaan, bukan dari nasihat panjang,” ujarnya.
Meski demikian, dr. Mazidu menegaskan bahwa aktivitas nongkrong dan berkumpul tetap penting bagi kesehatan sosial dan mental. Kafe tidak perlu dijauhi yang dibutuhkan adalah keseimbangan, dengan mengurangi kadar gula, tidak selalu memilih minuman berwarna mencolok, serta membiasakan minum air putih di sela-sela konsumsi minuman lain.
“Ginjal tidak meminta perlakuan istimewa,” kata dr. Mazidu. “Ia hanya butuh kita tidak berlebihan.”
Di tengah menjamurnya ruang-ruang nongkrong dan gaya hidup urban yang kian cepat, pesan tersebut menjadi pengingat penting.
Persahabatan dan hiburan boleh terus berjalan, namun kesehatan jangka panjang tidak seharusnya dikorbankan demi kesenangan sesaat. Menjaga ginjal sejak dini berarti menjaga masa depan tubuh sendiri, agar meja yang sering dikunjungi tetap menjadi meja pertemanan, bukan meja perawatan.
Penulis: Nanang Diyanto
Editor: Redaksi
.jpeg)