![]() |
| Kantor Bulog Cabang Ponorogo. (Foto: doc. Gardajatim.com) |
GARDAJATIM.COM: Menjelang hari raya Idul Fitri, Perum Bulog Kantor Cabang Ponorogo memastikan ketersediaan beras dalam kondisi melimpah. Cadangan beras yang tersimpan saat ini mencapai 60 ribu ton dan dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga delapan bulan ke depan.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Ponorogo, Budiwan Susanto, memastikan ketersediaan stok pangan di wilayah kerjanya dalam kondisi aman.
"Hingga pertengahan Maret 2026, total cadangan beras yang dikelola mencapai 60 ribu ton yang tersebar di lima gudang di Ponorogo, Magetan, dan Pacitan," kata Budiwan saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa, 17 Maret 2026.
Menurut dia, stabilitas harga beras di pasaran juga masih terjaga. Hasil sidak menunjukkan harga beras medium berada di kisaran Rp11.500 per kilogram, masih di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Bulog, kata Budiwan, saat ini juga menjalankan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan berkolaborasi bersama pemerintah daerah.
Program ini menyalurkan beras medium dari cadangan pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menahan lonjakan harga.
“SPHP ini menjadi instrumen penting untuk memastikan harga tetap stabil dan masyarakat bisa mengakses beras dengan harga terjangkau,” ujarnya.
Selain beras, distribusi minyak goreng bersubsidi Minyakita juga dipantau. Di Pasar Songgolangit Ponorogo, terdapat 13 rekanan yang bekerja sama dengan Bulog. Harga Minyakita terpantau dijual Rp15.500 per liter.
![]() |
| Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Ponorogo, Budiwan Susanto. |
Bulog Ponorogo juga terus mengoptimalkan serapan hasil panen petani, tidak hanya padi tetapi juga jagung.
Meski tidak ada batasan kuota serapan, pihaknya tetap menetapkan target guna menjaga keseimbangan stok.
Untuk mendukung penyerapan hasil panen, Bulog melibatkan aparat di tingkat desa. Penyerapan padi dilakukan melalui koordinasi dengan Babinsa, sedangkan komoditas jagung melalui Bhabinkamtibmas.
Selain itu, kerja sama dengan pihak swasta juga diperluas guna mempercepat distribusi dan penyerapan.
Budiwan menambahkan, sebagai salah satu daerah produsen di Jawa Timur, Ponorogo memiliki peran strategis dalam menopang kebutuhan pangan wilayah lain.
Jika terdapat daerah yang mengalami defisit, pasokan dapat disuplai dari Ponorogo maupun daerah produsen lain di Jawa Timur.
“Jawa Timur ini lumbung pangan. Jadi kalau ada daerah kekurangan, bisa disuplai dari daerah surplus seperti Ponorogo,” tutupnya. (Red)

